Jumat, 19 September 2014

Ruang logika

entah mengapa konprensif sulit ku pahami
dengan latar waktu dan tempat yang Tuhan ciptakan.....
jika ini tantangan lantas apa ini masalah?
sedikit ku putar otak terhadap naluri
atau pada rasa dan ruang logika
dimana letak keterkaitannya, sementara aku menelaah sampai sekarang
ada pikiran di ruang logikaku yang sekedar ingin ku dapat jawabannya
meski dengan atau tanpa kata sengaja
ku coba untuk sedikit menelusuri ruang logika tanpa batas dengan belenggu dindingnya yang dingin ini
udaranya masih sama, tapi apa warnanya berbeda?
mereka bilang ini aturan, tapi aku bilang ini kewajiban
mereka bilang aku terlalu berlebihan, tapi menurutku ini pas
apa logika tidak selalu sama?
apa mereka tau bahwa dilogikaku ada future yang terus menghapus past yang pernah ku lalui?
menghapus? ah tidak ini lebih kepada menyimpannya di list kenangan yang menawarkan seteguk air dengan doa pelajaran pemanisnya
mungkin ini makna yang hyperbola atau menimbulkan cyber crime  untuk diriku?
tapi ini yang terlintas dan lantas apakah harus ku abaikan dunia logika yang pada dasarnya punya wilayah segitiga bermuda yang membuatku terus hanyut tenggelam pada medan yang masih sulit dijelaskan

Kamis, 18 September 2014

Sepucuk surat Untuk gamemu

Hey, bisakah aku mojok denganmu? atau bertegur sapa denganmu meski hanya hitungan sekon?
hey, denganrkan aku
lihat amarahku yang memuncak terhadapmu
tidakkah kau tau dan sadar itu?
aku iri padamu
aku kesal padamu
karena waktu pacarku hanya dihabiskan denganmu
kamu bisa melukis senyumnya
menatapnya hingga berjam-jam
mendengarnya tertawa lepas, sementara aku? aku hanya bisa diam dan melihatnya tersenyum karenamu,
bukan karena aku, aku marah dengan semua yang komprehensif denganmu, ah sebalnya diriku....
apa yang istimewa tentangmu?
apakah kamu lebih cantik dariku?
atau senyummu lebih menawan dariku
atau mungkin matamu lebih indah dari mataku?
aku rasa tidak, aku lebih baik darimu tapi mengapa dia lebih memilih menghabiskan waktu denganmu ketimbang diriku? baca ini wahai ciptaan manusia dengan segelumput teknologi, dengarkan laraku wahai teknologi visual, bisakah aku mengatakan bulshit terhadapmu, tertanda diriku yang tidak nyaman akan hadirmu