Kamis, 04 Februari 2016

Yang kau persangkakan

Aku memulai lagi...
Menyarik nyarik sambil mengais ngais otak dan hati
Menerka dan memijit kenangan yang membeku
Membiarkan otot kakuku menyentuh tust yang mulai beku dan berkarat

Saat ini
Aku hanya ingin bercerita
Tentang beberapa orang yang ku jumpai dan ku nikmati alur hidupnya
Ku seduh dan seruput saringan saringan  proses yang ia lewati untuk menyambut hati yang baru

Aku merasa tergelitik
Ketika dua pasang mulut mulai menyanyikan kenangan mereka
Saling bertemu, saling menatap, saling mengagumi, saling menyukai, lantas saling diam
Apakah kamu layak jadi bunga yang tumbuh dan kemudian melayukan diri
Atau kau umpamakan dirimu pada sebatang tebu yang jika sudah dicintai maka harus meninggalkan?
Akulah salah seorang yang menentang itu..
Menentang persepsi tentang suka yang harus disembunyikan! Menentang persepsi bahwa ketika cinta haruslah diam
Ini logika!
Kau terus bungkam sementara hatimu seakan digelumuti taman bunga sehingga peri peri kecil menarik lekungan senyum disetiap sudut bibirmu yang merona
Lantas kau bertanya apa yang harus aku lakukan sementara aku takut memulai....

Lalu dengan tegas kujawabkan
Biarkan cinta menyapamu
Biarlah iramanya menghampirimu tugasmu hanya mengintrogasinya.
Apakah dia datang dengan sebuah senyuman atau bahkan ingin pergi dengan seribu tangisan
Maka biarlah dia mengetuk pintu hatimu
Membuka ruang ruang kosong yang kau sekatkan pada rasa yang tak ingin kau lukai
Tapi satu hal yang harus kau ingat!
Sisakan sekat yang penting sebab kau perlu menaruh yang ilahi didalamnya agar kelak lukamu bukan untuk ditangisi tapi baik untuk dipelajari, itupun jika kau membiarkan dirimu terluka

Makassar, 5 februari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar